Selasa, 29 November 2022

OPTIMALISASI PENDAMPINGAN MAHASISWA KPM DALAM MEMBINA GENERASI QUR’ANI DI DESA KARANGREJO

 TPQ memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak sejak dini supaya memiliki pondasi agama yang baik. Materi pembelajaran dalam pendidikan formal saja tidak begitu memperhatikan pendidikan agama karena hanya sebatas pada pemenuhan isi kurikulum, apalagi kebanyakan pendidikan formal di desa ini hanya ada SD,SMP,SMA/SMK jarang sekali ada pendidikan MI maupun MTS yang terdapat muatan pembelajaran pendidikan agama Islam. Oleh karena itu pendidikan TPQ sebagai alternatif penunjang para siswa untuk meningkatkan pemahaman nilai-nilai agama dalam hal keimanan dan ketakwaan. 

Sebelum saya menuangkan narasi dengan judul “Optimalisasi pendampingan mahasiswa KPM dalam membina generasi Qur’ani di Desa Karangrejo” ini yang mana saya berharap pendampingan  selama belajar mengaji di TPQ nantinya dapat berpengaruh banyak kepada hal positif tentunya tetapi yang paling penting adalah siswa bisa lebih termotivasi untuk belajar mengaji. Sebelum itu saya ingin para pembaca mengetahui seperti apa gambaran desa karangrejo tempat KPM saya ini.

Dalam kegiatan KPM ini saya ditempatkan di Desa Karangrejo. Desa Karangrejo merupakan desa yang terletak di Kecamatan Sawoo Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Berbeda dengan di kota-kota, Desa Karangrejo ini hanya memiliki 1 lembaga pendidikan saja didalamnya yaitu lembaga pendidikan tingkat sekolah dasar atau biasa disebut SDN 2 Tempuran. Oleh karena itu anak-anak harus melanjutkan pendidikannya ke daerah lain, yang mana kebanyakan anak memilih untuk sekolah di Trenggalek yang jaraknya tidak terlalu jauh dari desa. Mungkin hal tersebut agak menyulitkan kelompok kami untuk merealisasikan program kerja inti kami dalam ranah pendidikan yang salah satunya membantu kegiatan di lembaga sekolah.

Ketika kami tiba di Desa Karangrejo, sambutan dari kepala desa dan warga sangat baik dan senang atas kehadiran mahasiswa IAIN Ponorogo untuk menjalani kegiatan kuliah pengebadian masarakat di desa tersebut. Keesokan harinya beberapa perwakilan dari kelompok kami langsung pergi untuk mengunjungi rumah warga dan para tokoh masyarakat dengan niat silaturahmi sekaligus memperkenalkan diri serta tak lupa untuk memohon ijin dan meminta bantuan apabila kedepannya bila kami melaksanakan kegiatan yang tentunya akan membutuhkan batuan dari warga sekitar. Kami  pun mendapatkan tanggapan baik dari mereka bahkan dengan tangan terbuka para warga dan juga tokoh masyarakat siap membantu kami jika sewaktu-waktu kami membutkan bantuan dari mereka.

Dalam 40 hari menjalani Kuliah Pengabdian Masyarakat ini, teman-teman putri tinggal bersama dirumah mbah silah. Sedangkan teman-teman putra ditempatkan dirumah yang berbeda dengan anak putri,yang tempatnya tidak terlalu jauh dari posko putri mungkin hanya berjarak berapa meter saja, mereka tinggal dirumah bapak pur, tujuan dari  dibedakannya tempat tinggal ini adalah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan tetapi untuk kegiatan lainnya seperti makan, rapat tetap dilaksanakan bersama di rumah mbah silah. 

Pada program kerja yang mengarah ke pendidikan kami diberikan kepercayaan untuk mengabdi di SDN 2 Tempuran. Minggu pertama hari kedua tepatnya tanggal 5 Juli 2022 beberapa teman saya pergi kesekolah untuk sowan dengan kepala sekolah juga para guru. Tetapi, ketika pertama kali sowan tidak bisa bertemu dengan kepala sekolah.  Setelah sampai disana teman-teman dari KPM memperkenalkan diri serta menyampaikan tujuan mereka datang kesekolah yaitu untuk meminta izin agar diperbolehkan untuk mengabdi di SDN 2 Tempuran tersebut. Alhamdulillah sambutan para guru kepada kami sangat baik dan bahkan senang atas kedatangan kami. Mereka dengan sangat senang hati dan berterimakasih karena nantinya akan dibantu untuk mengajar anak-anak disana.

Di SDN 2 Tempuran, jam masuk sekolahnya dimulai pada pukul 07:30, hal tersebut dikarenakan banyak siswa dan guru yang jarak rumahnya jauh dari sekolah juga akses jalan yang kurang bagus sehingga tidak mendukung untuk mengendarai montor dengan cepat ataupun sampai di sekolah lebih awal. Sedangkan untuk jam pulangnya setiap kelas berbeda-beda, untuk kelas satu pulang pukul 10.30 WIB, kelas dua dan tiga pulang pukul 11.00 WIB, untuk kelas empat dan lima pukul 11.30 WIB sedangkan kelas enam pulang paling akhir yaitu pukul 12.00 WIB. Sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, di SDN 2 Tempuran mengawalinya dengan kegiatan pembiasaan. Kegiatan pembiasaan tersebut meliputi do’a, menghafal surat pendek dan terkadang menyanyikan lagu-lagu nasional yang dilakukan dikelasnya masing-masing dengan didampingi oleh guru kelasnya. 

Sedangkan pembiasaan di hari jum’at selama teman-teman KPM mengabdi disana, para guru menyarankan kami untuk mengadakan senam bersama di pagi hari sebelum pembelajaran dimulai, kami pun dengan semangat menyiapkan gerakan serta irama untuk mengiringi senam disekolah. Tiba di hari jum’at kami bersiap untuk senam, ternyata adek-adek juga telah bersiap dilapangan menunggu kami, dua teman dari KPM memimpin didepan dan teman-teman yang lain dibelakang untuk mengikuti senam bersama-sama. Dan alhamdulillah kegiatan senam tersebut sudah terlaksana dengan baik di setiap hari jumat pagi. 

Selain kegiatan mengabdi disekolah, mengajar di TPQ merupakan salah satu tugas penunjang pengabdian di masyarakat dalam kegiatan KPM kami. Taman Pendidikan Al-Qur’an merupakan lembaga atau kelompok pendidikan informal yang jenis pendidikannya bersifat islami yang bertujuan untuk memberikan pengajaran Al-Qur’an maupun pengajaran dasar-dasar islam sejak usia dini sehingga dapat berperan dalam mendidik dan melahirkan generasi muslim yang cinta dan pandai mengamalkan ajaran Islam.

Kelompok kami yang beranggotakan 21 orang dibagi dalam 2 Taman Pendidikan Al-Qur’an untuk mengabdi disana, yang mana salah satu Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) tempat saya mengajar yaitu bertempat di masjid uswatun hasanah. Taman Pendidikan Al-Qur’an dimasjid uswatun hasanah ini berdiri sejak sekitar 20 tahun dan terbilang sudah sangat lama berjalan, Taman Pendidikan Al-Qur’an ini didirikan langsung oleh bapak mukijo yaitu pemilik masjid uswatun hasanah. Taman Pendidikan Al-Qur’an di masjid uswatun hasanah ini merupakan Taman Pendidikan yang paling pertama berdiri dan ada di Desa Karangrejo ini, sehingga banyak sekali anak-anak yang antusias untuk belajar mengaji disana, sekitar 30 peserta didik datang ke masjid setiap harinya untuk belajar mengaji. 

Tetapi semenjak adanya covid-19 tahun 2020 anak-anak libur mengaji di masjid, karena adanya pengurangan kegiatan dari pemerintah memaksa mereka harus mengaji dirumahnya masing-masing. Nah semenjak covid-19 itu juga menjadikan banyak didirikan Taman Pendidikan  Al-Qur’an yang lainnya, yaitu ada 2 tempat dimana anak-anak bisa belajar mengaji juga selain di masjid, 2 tempat itu yang satu berada di mushola njeruk dan yang satu lagi berada di rumah salah satu warga yang bernama bapak kari. Semenjak saat itu anak-anak yang semula mengaji dimasjid terpecah belah dan bahkan masing-masing anak telah memilih mereka mau mengaji dimana sesuai keinginannya sendiri. Sehingga hanya tersisa 5 murid saja yang bertahan mengaji di masjid uswatun hasanah. Sebenaarnya sangat sedih  mendengar cerita tersebut apalagi hal tersebut juga berpengaruh terhadap semangat belajar mengaji siswa yang mengaji dimasjid, karena yang biasanya rame dan banyak sekali temannya tiba-tiba saja menjadi sepi. Bahkan tidak jarang anak-anak tersebut tidak mood untuk pergi mengaji, atau jika salah satu teman dari mereka tidak masuk mereka semua akan datang mengaji di masjid bersama-sama atau mbolos berjamaah.

Taman  Pendidikan Al-Qur’an di Masjid Uswatun Hasanah ini memang terbilang sangat sederhana dari tempatnya yang minimalis seperti saat siswa mengaji mereka hanya beralaskan sajadah serta meja mengaji yang terlihat sudah lama digunakan, selain itu karena murid yang mengaji terbilang sedikit sehingga tidak ada pembagian kelas di Taman Pendidikan Al-Qur’an ini, semua siswa diajarkan mengaji secara bersama mulai dari anak yang masih iqra’ hingga anak yang sudah lancar membaca Al-Quran. Setelah menggali potensi dan permasalahn yang ada, saya tertarik untuk menindaklanjuti permasalahan yang berkenaan mengenai Taman pendidikan Al-Qur’an yang sudah tidak berjalan efektif serta kurangnya fasilitas sumber daya tenanga pendidik yang berpengaruh terhadap motivasi siswa dalam belajar mengaji. Melihat jumlah peserta didik yang sedikit dikarenakan banyak yang memilih untuk mengaji ditempat lain sejak pandemi covid 19. Menanggapi masalah tersebut saya dan juga teman-teman dari KPM yang ditugaskan untuk mengabdi di Taman Pendidikan Al-Qur’an masjid ini bekerjasama untuk memulai dan menumbuhkan kembali semangat mengaji adek-adek yang juga dibantu langsung oleh guru yang mengajar ngaji disana.

Pada minggu pertama saya dan teman-teman yang bertugas mengabdi di Taman Pendidikan Al-Qur’an masjid uswatun hasanah, berniat untuk sowan ke rumah bapak mukijo. Tujuan kami datang kerumah beliau yaitu untuk bersilaturahmi dan juga meminta izin agar bisa mengajar adek-adek yang mengaji di masjid. Demikian bapak mukijo dan juga keluarga sangat memberikan sambutan yang hangat dan dengan baik menerima kami disini bahkan dengan senang hati mengijinkan saya dan juga teman-teman untuk mengabdi serta mengajar mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an masjid uswatun hasanah tersebut. Beliau juga mengatakan bahwa “saya dan anak saya sangat senang dengan kedatangan teman-teman mahasiswa kesini dan saya juga berpesan bahwa menjadi guru mengaji harus memiliki sifat sabar serta telaten supaya anak-anak termindset bahwa belajar mengaji merupakan kegiatan yang menyenangkan” begitulah yang dikatakan oleh bapak mukijo kepada saya dan juga teman-teman KPM.

Sebenarnya saya dan juga teman-teman berniat memulai mengajar adek-adek untuk mengaji pada minggu kedua, tetapi ternyata hal tersebut belum dapat terlaksana dikarenakan di desa tersebut sedang banyak acara hajatan jadi adek-adek yang mengaji biasanya sering ikut  ibu nya untuk pergi rewang ke tempat orang yang sedang hajatan tersebut. Sehingga saya dan juga teman-teman sepakat memilih untuk memulai mengajar mengaji di masjid pada minggu ketiga. Tepat di minggu ketiga kami memulai kegiatan belajar mengajar di TPA masjid uswatun hasanah. Pertemuan pertama kala itu digunakan untuk perkenalan dan pendekatan antara teman-teman KPM dengan adik-adik, tak lupa kita memberikan sedikit motivasi kepada 

OPTIMALISASI PENDAMPINGAN MAHASISWA KPM DALAM MEMBINA GENERASI QUR’ANI DI DESA KARANGREJO

 TPQ memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak sejak dini supaya memiliki pondasi agama yang baik. Materi pembelajara...