Selasa, 29 November 2022

OPTIMALISASI PENDAMPINGAN MAHASISWA KPM DALAM MEMBINA GENERASI QUR’ANI DI DESA KARANGREJO

 TPQ memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak sejak dini supaya memiliki pondasi agama yang baik. Materi pembelajaran dalam pendidikan formal saja tidak begitu memperhatikan pendidikan agama karena hanya sebatas pada pemenuhan isi kurikulum, apalagi kebanyakan pendidikan formal di desa ini hanya ada SD,SMP,SMA/SMK jarang sekali ada pendidikan MI maupun MTS yang terdapat muatan pembelajaran pendidikan agama Islam. Oleh karena itu pendidikan TPQ sebagai alternatif penunjang para siswa untuk meningkatkan pemahaman nilai-nilai agama dalam hal keimanan dan ketakwaan. 

Sebelum saya menuangkan narasi dengan judul “Optimalisasi pendampingan mahasiswa KPM dalam membina generasi Qur’ani di Desa Karangrejo” ini yang mana saya berharap pendampingan  selama belajar mengaji di TPQ nantinya dapat berpengaruh banyak kepada hal positif tentunya tetapi yang paling penting adalah siswa bisa lebih termotivasi untuk belajar mengaji. Sebelum itu saya ingin para pembaca mengetahui seperti apa gambaran desa karangrejo tempat KPM saya ini.

Dalam kegiatan KPM ini saya ditempatkan di Desa Karangrejo. Desa Karangrejo merupakan desa yang terletak di Kecamatan Sawoo Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Berbeda dengan di kota-kota, Desa Karangrejo ini hanya memiliki 1 lembaga pendidikan saja didalamnya yaitu lembaga pendidikan tingkat sekolah dasar atau biasa disebut SDN 2 Tempuran. Oleh karena itu anak-anak harus melanjutkan pendidikannya ke daerah lain, yang mana kebanyakan anak memilih untuk sekolah di Trenggalek yang jaraknya tidak terlalu jauh dari desa. Mungkin hal tersebut agak menyulitkan kelompok kami untuk merealisasikan program kerja inti kami dalam ranah pendidikan yang salah satunya membantu kegiatan di lembaga sekolah.

Ketika kami tiba di Desa Karangrejo, sambutan dari kepala desa dan warga sangat baik dan senang atas kehadiran mahasiswa IAIN Ponorogo untuk menjalani kegiatan kuliah pengebadian masarakat di desa tersebut. Keesokan harinya beberapa perwakilan dari kelompok kami langsung pergi untuk mengunjungi rumah warga dan para tokoh masyarakat dengan niat silaturahmi sekaligus memperkenalkan diri serta tak lupa untuk memohon ijin dan meminta bantuan apabila kedepannya bila kami melaksanakan kegiatan yang tentunya akan membutuhkan batuan dari warga sekitar. Kami  pun mendapatkan tanggapan baik dari mereka bahkan dengan tangan terbuka para warga dan juga tokoh masyarakat siap membantu kami jika sewaktu-waktu kami membutkan bantuan dari mereka.

Dalam 40 hari menjalani Kuliah Pengabdian Masyarakat ini, teman-teman putri tinggal bersama dirumah mbah silah. Sedangkan teman-teman putra ditempatkan dirumah yang berbeda dengan anak putri,yang tempatnya tidak terlalu jauh dari posko putri mungkin hanya berjarak berapa meter saja, mereka tinggal dirumah bapak pur, tujuan dari  dibedakannya tempat tinggal ini adalah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan tetapi untuk kegiatan lainnya seperti makan, rapat tetap dilaksanakan bersama di rumah mbah silah. 

Pada program kerja yang mengarah ke pendidikan kami diberikan kepercayaan untuk mengabdi di SDN 2 Tempuran. Minggu pertama hari kedua tepatnya tanggal 5 Juli 2022 beberapa teman saya pergi kesekolah untuk sowan dengan kepala sekolah juga para guru. Tetapi, ketika pertama kali sowan tidak bisa bertemu dengan kepala sekolah.  Setelah sampai disana teman-teman dari KPM memperkenalkan diri serta menyampaikan tujuan mereka datang kesekolah yaitu untuk meminta izin agar diperbolehkan untuk mengabdi di SDN 2 Tempuran tersebut. Alhamdulillah sambutan para guru kepada kami sangat baik dan bahkan senang atas kedatangan kami. Mereka dengan sangat senang hati dan berterimakasih karena nantinya akan dibantu untuk mengajar anak-anak disana.

Di SDN 2 Tempuran, jam masuk sekolahnya dimulai pada pukul 07:30, hal tersebut dikarenakan banyak siswa dan guru yang jarak rumahnya jauh dari sekolah juga akses jalan yang kurang bagus sehingga tidak mendukung untuk mengendarai montor dengan cepat ataupun sampai di sekolah lebih awal. Sedangkan untuk jam pulangnya setiap kelas berbeda-beda, untuk kelas satu pulang pukul 10.30 WIB, kelas dua dan tiga pulang pukul 11.00 WIB, untuk kelas empat dan lima pukul 11.30 WIB sedangkan kelas enam pulang paling akhir yaitu pukul 12.00 WIB. Sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, di SDN 2 Tempuran mengawalinya dengan kegiatan pembiasaan. Kegiatan pembiasaan tersebut meliputi do’a, menghafal surat pendek dan terkadang menyanyikan lagu-lagu nasional yang dilakukan dikelasnya masing-masing dengan didampingi oleh guru kelasnya. 

Sedangkan pembiasaan di hari jum’at selama teman-teman KPM mengabdi disana, para guru menyarankan kami untuk mengadakan senam bersama di pagi hari sebelum pembelajaran dimulai, kami pun dengan semangat menyiapkan gerakan serta irama untuk mengiringi senam disekolah. Tiba di hari jum’at kami bersiap untuk senam, ternyata adek-adek juga telah bersiap dilapangan menunggu kami, dua teman dari KPM memimpin didepan dan teman-teman yang lain dibelakang untuk mengikuti senam bersama-sama. Dan alhamdulillah kegiatan senam tersebut sudah terlaksana dengan baik di setiap hari jumat pagi. 

Selain kegiatan mengabdi disekolah, mengajar di TPQ merupakan salah satu tugas penunjang pengabdian di masyarakat dalam kegiatan KPM kami. Taman Pendidikan Al-Qur’an merupakan lembaga atau kelompok pendidikan informal yang jenis pendidikannya bersifat islami yang bertujuan untuk memberikan pengajaran Al-Qur’an maupun pengajaran dasar-dasar islam sejak usia dini sehingga dapat berperan dalam mendidik dan melahirkan generasi muslim yang cinta dan pandai mengamalkan ajaran Islam.

Kelompok kami yang beranggotakan 21 orang dibagi dalam 2 Taman Pendidikan Al-Qur’an untuk mengabdi disana, yang mana salah satu Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) tempat saya mengajar yaitu bertempat di masjid uswatun hasanah. Taman Pendidikan Al-Qur’an dimasjid uswatun hasanah ini berdiri sejak sekitar 20 tahun dan terbilang sudah sangat lama berjalan, Taman Pendidikan Al-Qur’an ini didirikan langsung oleh bapak mukijo yaitu pemilik masjid uswatun hasanah. Taman Pendidikan Al-Qur’an di masjid uswatun hasanah ini merupakan Taman Pendidikan yang paling pertama berdiri dan ada di Desa Karangrejo ini, sehingga banyak sekali anak-anak yang antusias untuk belajar mengaji disana, sekitar 30 peserta didik datang ke masjid setiap harinya untuk belajar mengaji. 

Tetapi semenjak adanya covid-19 tahun 2020 anak-anak libur mengaji di masjid, karena adanya pengurangan kegiatan dari pemerintah memaksa mereka harus mengaji dirumahnya masing-masing. Nah semenjak covid-19 itu juga menjadikan banyak didirikan Taman Pendidikan  Al-Qur’an yang lainnya, yaitu ada 2 tempat dimana anak-anak bisa belajar mengaji juga selain di masjid, 2 tempat itu yang satu berada di mushola njeruk dan yang satu lagi berada di rumah salah satu warga yang bernama bapak kari. Semenjak saat itu anak-anak yang semula mengaji dimasjid terpecah belah dan bahkan masing-masing anak telah memilih mereka mau mengaji dimana sesuai keinginannya sendiri. Sehingga hanya tersisa 5 murid saja yang bertahan mengaji di masjid uswatun hasanah. Sebenaarnya sangat sedih  mendengar cerita tersebut apalagi hal tersebut juga berpengaruh terhadap semangat belajar mengaji siswa yang mengaji dimasjid, karena yang biasanya rame dan banyak sekali temannya tiba-tiba saja menjadi sepi. Bahkan tidak jarang anak-anak tersebut tidak mood untuk pergi mengaji, atau jika salah satu teman dari mereka tidak masuk mereka semua akan datang mengaji di masjid bersama-sama atau mbolos berjamaah.

Taman  Pendidikan Al-Qur’an di Masjid Uswatun Hasanah ini memang terbilang sangat sederhana dari tempatnya yang minimalis seperti saat siswa mengaji mereka hanya beralaskan sajadah serta meja mengaji yang terlihat sudah lama digunakan, selain itu karena murid yang mengaji terbilang sedikit sehingga tidak ada pembagian kelas di Taman Pendidikan Al-Qur’an ini, semua siswa diajarkan mengaji secara bersama mulai dari anak yang masih iqra’ hingga anak yang sudah lancar membaca Al-Quran. Setelah menggali potensi dan permasalahn yang ada, saya tertarik untuk menindaklanjuti permasalahan yang berkenaan mengenai Taman pendidikan Al-Qur’an yang sudah tidak berjalan efektif serta kurangnya fasilitas sumber daya tenanga pendidik yang berpengaruh terhadap motivasi siswa dalam belajar mengaji. Melihat jumlah peserta didik yang sedikit dikarenakan banyak yang memilih untuk mengaji ditempat lain sejak pandemi covid 19. Menanggapi masalah tersebut saya dan juga teman-teman dari KPM yang ditugaskan untuk mengabdi di Taman Pendidikan Al-Qur’an masjid ini bekerjasama untuk memulai dan menumbuhkan kembali semangat mengaji adek-adek yang juga dibantu langsung oleh guru yang mengajar ngaji disana.

Pada minggu pertama saya dan teman-teman yang bertugas mengabdi di Taman Pendidikan Al-Qur’an masjid uswatun hasanah, berniat untuk sowan ke rumah bapak mukijo. Tujuan kami datang kerumah beliau yaitu untuk bersilaturahmi dan juga meminta izin agar bisa mengajar adek-adek yang mengaji di masjid. Demikian bapak mukijo dan juga keluarga sangat memberikan sambutan yang hangat dan dengan baik menerima kami disini bahkan dengan senang hati mengijinkan saya dan juga teman-teman untuk mengabdi serta mengajar mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an masjid uswatun hasanah tersebut. Beliau juga mengatakan bahwa “saya dan anak saya sangat senang dengan kedatangan teman-teman mahasiswa kesini dan saya juga berpesan bahwa menjadi guru mengaji harus memiliki sifat sabar serta telaten supaya anak-anak termindset bahwa belajar mengaji merupakan kegiatan yang menyenangkan” begitulah yang dikatakan oleh bapak mukijo kepada saya dan juga teman-teman KPM.

Sebenarnya saya dan juga teman-teman berniat memulai mengajar adek-adek untuk mengaji pada minggu kedua, tetapi ternyata hal tersebut belum dapat terlaksana dikarenakan di desa tersebut sedang banyak acara hajatan jadi adek-adek yang mengaji biasanya sering ikut  ibu nya untuk pergi rewang ke tempat orang yang sedang hajatan tersebut. Sehingga saya dan juga teman-teman sepakat memilih untuk memulai mengajar mengaji di masjid pada minggu ketiga. Tepat di minggu ketiga kami memulai kegiatan belajar mengajar di TPA masjid uswatun hasanah. Pertemuan pertama kala itu digunakan untuk perkenalan dan pendekatan antara teman-teman KPM dengan adik-adik, tak lupa kita memberikan sedikit motivasi kepada 

Kamis, 25 Agustus 2022

Essay- Nova Lutfifatul Azizah

UPAYA PENGAKTIFAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH UNTUK MENUMBUHKAN 

MINAT BACA SISWA DI SDN 3 NGRAYUN

Nova Lutfifatul Azizah

    Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) adalah kegiatan perkuliahan pengabdian mahasiswa dalam bentuk belajar, meneliti dan bekerja bersama masyarakat. KPM ini merupakan kegiatan perkuliahan pengabdian masyarakat mahasiswa IAIN Ponorogo sebagai salah satu bagian penting kegiatan pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang wajib ditempuh  oleh seluruh mahasiswa IAIN Ponorogo.

    KPM merupakan bagian dari kegiatan intrakulikuler yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar, melakukan proses pencarian (research) dan bekerja bersama masyarakat. KPM bukan kegiatan bakti sosial, KPM adalah kegiatan partisipatif yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat dimana mahasiswa peserta KPM dan masyarakat melebur menjadi satu dan bersama-sama secara aktif partisipatif melakukan proses pencarian dan penemuan jalan terbaik dalam menggali potensi dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.

    Adapun tujuan umum dari KPM adalah untuk mempraktikkan ilmu yang telah didapat dibangku kuliah dalam bentuk pemberdayaan masyarakat sehingga menghasilkan kualitas dan kesejahteraan hidup masyarakat menjadi  meningkat. Mahasiswa peserta kegiatan pengabdian masyarakat diharapkan mampu bersinergi dengan masyarakat sehingga problem sosial masyarakat sehingga problem sosial masyarakat dapat terpecahkan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan sosial sesuai dengan visi, misi, dan fungsi perguruan tinggi agama Islam.

    Sedangkan tujuan khusus dari KPM adalah melatih penalaran dan kepekaan mahasiswa dengan bekerja sama atau antar disiplin ilmu, mengembangkan potensi mahasiswa untuk melakukan improvisasi dan inovasi dalam profesi khususnya dalam pembangunan masyarakat umumnya, memberikan kepada mahasiswa pengalaman belajar, meneliti dan bekerja secara langsung bersama masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan yang kompleks, memberikan bantuan pemikiran kepada masyarakat dalam meningkatkan SDM sesuai dengan tuntutan dinamika pembangunan dan perkembangan iptek, mendampingi, membersamai dan mensuport masyarakat dalam upaya melakukan pembinaan pranata dan meningkatkan keahlian dan keterampilan hidup untuk mencapai kesejahteraan dan kemandirian hidup. Objek sasaran dari kegiatan KPM ini adalah mahasiswa IAIN Ponorogo dan masyarakat Kabupaten Ponorogo khususnya yang bertempat tinggal di Kecamatan yang menjadi tempat pelaksanaan KPM tahun 2022 salah satunya adalah di Dusun  Ganen, Desa Ngrayun Kecamatan Ngrayun Kabupaten Ponorogo.

    Dukuh Ganen merupakan dukuh yang terbentuk pada tahun 2018 dan merupakan pecahan dari dukuh Sambi, akibat banyaknya jumlah penduduk di dukuh Sambi maka pemerintah melakukan pemisahan wilayah dari dukuh Sambi untuk menjadi dukuh sendiri yang disebut dengan dukuh Ganen, oleh karena itu sejarah dukuh Ganen sama seperti dukuh Sambi. Dukuh Ganen terdiri dari 11 RT dan 3 RW dari awal terbentuknya, wisata yang terdapat di dukuh tersebut yaitu gazebo desa.

    Pada tanggal 4 Juli 2022 IAIN Ponorogo kembali menugaskan kapada Mahasiswa untuk memulai pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat secara offline. Pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) ini terbagi menjadi 120 kelompok dengan berpencar-pencar di beberapa desa yaitu Desa Sambit, Desa Slahung, Desa Bungkal, Desa Ngrayun, dan Desa Sawo, yang mana dalam setiap kelompok terdiri dari 20 sampai 22 mahasiswa dengan pengelompokkan jenis Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) sesuai pilihan sebelum pelaksanaan KPM. Jenis KPM disini ada 2 yaitu KPM Mono Disiplin dan KPM Multi Disiplin. KPM Mono Disiplin yaitu KPM yang terdiri dari mahasiswa prodi serta fakultas yang sama sedangkan KPM Multi Disiplin yaitu gabungan dari beberapa prodi dengan fakultas  yang berbeda. Dalam pelaksanaan kegiatan KPM kami kelompok 66 dengan jenis KPM Mono Disiplin prodi Pendidikan Agama Islam yang beranggotakan 21 mahasiswa yang terdiri dari 16 mahasiswa perempuan dan 5 mahasiswa laki-laki yang ditempatkan di Desa Ngrayun,  Kecamatan Ngrayun Kabupaten Ponorogo tapatnya berlokasi di Dukuh Ganen bertepatan rumah yang kita tinggali milik Bapak Soiman yang merupakan penduduk asli dukuh Ganen. Sebelum hari-H kami sudah mendatangi rumah Bapak Soiman untuk meminta izin jika ingin tinggal di rumah baliau selama kegiatan kuliah pengabdian masyarakat, yang berlangsung dalam waktu 40 hari. Akan tetapi sebelum memulai kegiatan di Desa Ngrayun, kami juga silaturahim ke balai desa untuk menemui bapak kepala desa beserta perangkatnya untuk mengetahui lebih lanjut jika pelaksanaan KPM resmi diterima di Desa Ngrayun. Hal ini untuk mengetahui lebih mendalam mengenai semua kebiasaan yang telah menjadi tradisi di Desa Ngrayun, kami juga melakukan observasi, wawancara dan silaturahmi ke rumah tokoh masyarakat serta takmir masjid untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan yang ada di Desa Ngrayun. Berdasarkan pengamatan yang diperoleh di Desa Ngrayun, terdapat beberapa lembaga pendidikan baik formal maupun non-formal. Untuk lembaga non formal disini  kami menemukan beberapa lembaga Madin. Diantaranya yaitu Madin sekolah, Madin Baitul mal, dan Madin Sulamun Nihayah. Sedangkan Pendidikan formal yang ada di Dukuh Ganen desa Ngrayun terdapat dua lembaga sekolah yaitu TK dan SD.

    Ketika melakukan observasi  di SDN 3 Ngrayun, terdapat beberapa problematika yang kami temukan. Di lokasi tersebut kami prihatin atas kondisi sarana dan prasarana sekolah. Banyak ruang-ruang kelas, plafon, bangku, tempat ibadah, kamar mandi, dan perpustakaan yang perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Namun, dengan kondisi yang demikian tidak ada respon dari pemerintah terkait dengan renovasi sekolah. Oleh karena itu kelompok kami membuat program kerja salah satunya mengenai perpustakaan di SDN 3 Ngrayun. 

    Setelah satu Minggu melakukan observasi di SDN 3 Ngrayun, kami hanya melihat beberapa siswa yang mengunjungi perpustakaan sekolah. Mungkin karena siswa malas pergi ke perpustakaan yang disebabkan karena kondisi sarana dan prasarana yang kurang memadai tersebut. Para siswa lebih memilih bermain, bercanda, dan membeli makanan ringan daripada berkunjung ke perpustakaan sekolah. Hanya ada beberapa siswa saja yang mengunjungi perpustakaan, itupun hanya melihat-lihat buku. 

    Esai ini akan membahas mengenai upaya Pengaktifan Perpustakaan Sekolah untuk Menarik Minat Baca Siswa di SDN 3 Ngrayun. Ketika melakukan pengamatan dan observasi secara langsung, kami memperoleh beberapa problem yang ada. Salah satunya yaitu terkait dengan perpustakaan di SDN 3 Ngrayun. Problem yang kami temukan  yaitu kurangnya minat baca siswa yang disebabkan oleh sarana dan prasarana perpustakaan yang kurang memadai. Sarana dan prasarana yang belum memadai tersebut meliputi; tidak tersedianya tempat baca yang nyaman, lantai yang rusak, rak dan buku yang tidak tertata rapi, selain itu cat dinding yang lusuh sehingga terkesan perpustakaan tersebut seperti gedung tua yang tidak terpakai. 

    Setiap jenjang pendidikan pada dasarnya harus memenuhi 8 standar pendidikan, salah satunya standar sarana. Sarana prasarana pendidikan tersebut meliputi ruang belajar, tempat berolahraga tempat beribadah perpustakaan laboratorium dan sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran. Dengan adanya sarana dan prasarana bukan hanya tujuan pembelajaran yang tercapai tetapi, tujuan dari lembaga pendidikan juga dapat tercapai. 

Program ini dilaksanakan mengingat pentingnya perpustakaan bagi siswa sebagai sumber ilmu pengetahuan dan tempat menyimpan bahan belajar anak khususnya literasi. Keberadaan perpustakaan sekolah sangat penting karena masa sekolah merupakan kesempatan yang baik bagi anak untuk membiasakan membaca. Keberadaannya sangat membantu anak-anak menanamkan pengetahuan yang lebih luas. Oleh sebab itu, kami memfokuskan program kerja kami untuk mengaktifkan perpustakaan dengan tujuan untuk menarik minat baca siswa di SDN 3 Ngrayun. 

    Berdasarkan masalah yang ada diperpustakaan, kami melakukan beberapa aksi yang didukung penuh oleh kepala sekolah, semua guru dan para siswa yang turut andil dalam mensukseskan  program yang telah kami buat. Aksi tersebut diantaranya yaitu penataan ulang perpustakaan, renovasi perpustakaan dan menghidupkan kembali perpustakaan. Ketika penataan ulang perpustakaan, kami dibantu oleh siswa dan guru untuk membersihkan debu-debu, menyapu, dan memindahkan buku dari satu rak ke meja untuk penataan ulang. Selain itu, kita juga melakukan penataan ulang taman didepan perpustakaan. Tidak hanya melakukan tindakan penataan ulang, tetapi kelompok kami juga merenovasi perpustakaan. Tindakan yang  kita ambil yaitu melakukan pengecatan ulang perpustakaan dan pengecoran lantai perpustakaan yang telah rusak. Selain itu, upaya yang kita lakukan untuk menghidupkan kembali perpustakaan yaitu kita membuat pojok baca yang nyaman dan mengajak para siswa untuk meramaikan perpustakaan. Program ini dilaksanakan pada Minggu ke-4 tepatnya pada hari Senin tanggal 25 Juli 2022 sampai tanggal 6 Agustus 2022. Dengan semangat dan gotong royong dari semua pihak akhirnya program dari kelompok kami dapat terlaksana sesuai dengan perencanaan. 

    Pada hari Senin 8 Agustus 2022 perpustakaan sudah dibuka sehingga para siswa dapat menggunakan fasilitas perpustakaan yang lebih nyaman. Terlihat sekali para siswa begitu antusias meramaikan perpustakaan. Mereka membaca, bercerita dan  meminjam beberapa buku yang ada diperpustakaan. Menurut salah satu anak yang saya wawancarai, anak tersebut merasa nyaman dengan perpustakaan yang bersih dan nyaman untuk ditempati. Itulah tujuan utama yang ingin dicapai oleh kelompok kami, yaitu menimbulkan kecintaan para siswa terhadap budaya minat baca.

    Kami dari Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat berusaha untuk memberikan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan yang ada dengan mengaktifkan kembali perpustakaan melalui beberapa upaya seperti  penataan ulang perpustakaan, pengecatan perpustakaan, pengecoran lantai perpustakaan, dan memperbaiki taman yang ada didepan perpustakaan. Terbukti bahwa kami mahasiswa IAIN Ponorogo terjun untuk mengabdi ke lembaga sekolah untuk mengaktifkan kembali perpustakaan yang sepi. Dengan adanya aksi dan upaya dalam pengaktifan ulang perpustakaan dapat meningkatkan minat baca siswa di SDN 3 Ngrayun. 

    Kesan yang saya dapatkan selama pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat di Desa Ngrayun sangat banyak sekali, bahkan tidak akan pernah terlupakan. Pengalaman yang saya dapatkan selama ini tidak hanya terpacu pada dunia pendidikan, bahkan banyak kegiatan masyarakat yang menarik dan memberikan pengalaman dan nantinya dapat diterapkan di desa masing-masing. Seperti halnya di Dukuh Ganen Desa Ngrayun Kecamatan Ngrayun Kabupaten Ponorogo, ditempat inilah saya belajar hidup bermasyarakat. Setiap malam Jum'at siang kami mengikuti kegiatan rutinan Yasinan bersama ibu-ibu desa Ngrayun. Kami sebagai mahasiswa KPM turut  andil dalam kegiatan tersebut, yakni menjadi bilal saat kegiatan Yasinan. Selain itu, setiap hari Selasa terdapat kegiatan bersih lingkungan yang dilakukan oleh semua masyarakat dukuh Ganen Desa Ngrayun. Mereka bergotong royong membersihkan jalan dan membersihkan rumput. Kegiatan tersebut berlangsung dari jam tujuh pagi sampai jam 9 pagi. Selain bersih -bersih Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat juga mengikuti kegiatan Rewang diacara pernikahan. Tidak hanya itu, kelompok KPM kami juga mengikuti kegiatan acara piton-piton yang merupakan peringatan tujuh bulan umur bayi setelah dilahirkan, dan sebagai wujud rasa syukur orang tua si bayi kepada tuhan yang maha esa atas karunia nya sehingga anak mereka tumbuh dengan baik. 

    Salah satu acara yang sangat berkesan bagi saya pribadi yaitu ketika kegiatan Peringatan HUT RI ke-77. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 8-9 Agustus 2022 tepatnya pada hari Senin dan selasa. Ketika kegiatan Peringatan HUT RI ke-77 semua anak-anak SDN 3 Ngrayun turut serta dalam kegiatan tersebut. Kuliah Pengabdian Masyarakat kelompok 66 mengadakan 9 lomba yang mana lomba tersebut terdapat 2 kategori. Yakni lomba adzan dan hafalan untuk lomba Madin, dan lomba non Madin seperti lomba balap karung, lomba tusuk air, lomba makan kerupuk,  lomba goyang balon, lomba estafet air, dan lomba estafet karet. Kegiatan tesebut dilaksanakan dengan tujuan untuk memeriahkan perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia sekaligus mengajarkan anak mengenai perjuangan dalam meraih kemenangan. Hal yang sangat berkesan juga terjadi ketika hari Kamis, 11 Agustus 2022. Pada hari dan tanggal tersebut diadakan pengajian dalam rangka memperingati HUT RI ke-77, hari jadi dukuh Ganen ke-2 dan sekaligus penutupan KPM Kelompok 66 IAIN Ponorogo. Kegiatan tersebut dihadiri oleh  masyarakat ngrayun dan sekitarnya. Mereka berantusias untuk mensukseskan acara yang telah kami buat dengan turut meramaikan pengajian yang diisi  langsung oleh kyai Sunartib, M.Sy yang merupakan pengasuh pondok pesantren Al-Muttawakil Jenangan Ponorogo.

    Keesokan harinya, tepatnya pada hari Jumat, 12 Agustus 2022 kami Kelompok 66 KPM IAIN Ponorogo bersilaturahmi ke rumah tokoh masyarakat dusun Ganen dengan tujuan menyampaikan banyak terimakasih karena sudah memberikan tempat dan telah membantu dalam mensukseskan acara Kuliah Pengabdian Masyarakat tepatnya di dukuh Ganen. Tanpa bantuan dari mereka Kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat ini tidak akan terlaksana. Dengan mengikuti kegiatan yang ada di Dukuh Ganen Desa Ngrayun Kecamatan Ngrayun dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman dalam bermasyarakat dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Walaupun kami mengambil jenis KPM Mono Disiplin dengan prodi Pendidikan Agama Islam, akan tetapi kami tidak hanya terpacu pada kegiatan yang berbasis pendidikan. Kami juga berbaur ke masyarakat untuk ikut serta dalam mengisi kegiatan masyarakat. Pengalaman yang paling menyenangkan dalam pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat, kami memiliki banyak teman dari berbagai macam kelas dengan Prodi Pendidikan Agama Islam dan juga lebih mengenal dekat tokoh masyarakat yang ada di Desa Ngrayun melalui berbagai macam aktivitas yang dilakukan, sehingga dengan hal tersebut dapat mempererat tali silaturahmi diantara sesama.

    Pesan yang ingin saya sampaikan selama pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat yaitu kami berterima kasih kepada kampus bercinta kami IAIN Ponorogo yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengikuti pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat. Tak lupa kami juga berterima kasih  kepada Bapak Erwin Yudhi Prahara, M. Pd. I selaku dosen pembimbing lapangan Kuliah Pengabdian Masyarakat yang telah membimbing selama kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat berlangsung dan tak lupa kepada rekan Kuliah Pengabdian Masyarakat kelompok 66 yang  telah berkenan bergabung dengan kami. Dengan adanya pelaksanaan Kuliah Pengabdian Masyarakat kami bisa mendapatkan banyak pengalaman dari masyarakat dan lembaga lainnya yang membantu menyukseskan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat.Kami berharap dengan  datangnya mahasiswa KPM dan mengisi ke lembaga pendidikan khususnya SDN 3 Ngrayun diharapkan mampu mengatasi problem yang ada, dengan harapan setelah penataan ulang perpustakaan dari mahasiswa KPM mampu meningkatkan minat baca siswa. Selain itu, kami berharap kepada tokoh masyarakat di Desa Ngrayun untuk tetap menjaga kekompakan dan selalu bergotong royong guna menciptakan masyarakat yang hidup rukun dan damai. Dengan datangnya Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat di Desa Ngrayun semoga dapat memberikan  manfaat khususnya bagi tokoh masyarakat dan juga adik-adik yang sudah mau bergabung dengan kami dalam berbagai kegiatan seperti bimbingan belajar, kegiatan Madin dan juga TPA, semoga adik-adik di Desa Ngrayun menjadi anak yang sukses, dapat membahagiakan orang tua, dapat menggapai cita-cita, dan dapat membawa nama baik desa. Harapannya jika nanti Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat sudah usai dan meninggalkan Desa Ngrayun semoga dapat memberikan kenang-kenangan yang baik dan dikenal oleh masyarakat dengan hal-hal yang baik sehingga tali silaturahmi akan tetap terjaga walaupun kami sudah tidak ada disana.  

UPAYA MEMPERBAIKI AKHLAK SISWA UNTUK MENGEMBANGKAN DIRI MENGEKSPLOR DUNIA LUAR DI SDN 2 TEMPURAN

Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) adalah kegiatan perkuliahan pengabdian mahasiswa dalam bentuk belajar, meneliti dan bekerja bersama masyarakat. KPM ini merupakan kegiatan perkuliahan pengabdian masyarakat mahasiswa IAIN Ponorogo sebagai salah satu bagaian penting kegiatan pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang wajib ditempuh oleh seluruh mahasiswa IAIN Ponorogo.

KPM meruapakan bagian dari kegiatan intrakurikuler yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar, melakukan proses pencarian (research) dan bekerja bersama masyarakat. KPM bukan kegiatan bakti sosial, KPM adalah kegiatan partisipatif yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat dimana mahasiswa peserta KPM dan masyarakat melebur menjadi satu dan bersama- sama secara aktif partisipatif melakukan proses pencarian dan penemuan jalan terbaik dalam menggali potensi dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.

Adapun tujuan umum dari KPM adalah untuk mempraktikkan ilmu yang telah dihadapi dibangku kuliah dalam bentuk pemberdayaan masyarakat sehingga menghasilkan kualitas dan kesejahteraan hidup masyarakat menjadi meningkat. Mahasiswa peserta kegiatan pengabdian masyarakat diharapkan mampu bersinergi dengan masyarakat sehingga problem social  masyarakat dapat terpecahkan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan sosial sesual dengan visi, misi, dan fungsi perguruan tinggi agama Islam.

Sedangkan tujuan khusus dari KPM adalah melatih penalaran dan kepekaan mahasiswa dengan bekerja sama atau antar disiplin ilmu, mengembangkan potensi mahasiswa untuk melakukan improvisasi dan inovasi dalam profesi khususnya dalam pembangunan masyarakat umumnya, memberikan kepada mahasiswa pengalaman belajar, meneliti dan bekerja secara langsung bersama masyarakat dalam mengahadapi berbagai persoalan yang kompleks, memberikan bantuan pemikiran kepada masyarakat dalam meningkatkan SDM sesuai dengan tuntutan dinamika pembangunan dan perkembangan iptek, mendampingi, membersamai dan mensuport masyarakat dalam upaya melakukan pembinaan pranata dan meningkatkan keahlian dan ketrampilan hidup untuk mencapai kesejateraan dan kemandirian hidup. Objek sasaran dari kegiatan KPM ini adalah mahasiswa IAIN Ponorogo dan masyarakat Kabupaten Ponorogo khususnya yang bertempat tinggal di Kecamatan yang menjadi tempat pelaksanaan KPM tahun 2022 salah satunya di Dukuh Karangrejo, Desa Tempuran Kecamatan Sawoo Kabupaten Ponorogo.

Tepat  tanggal 4 Juli 2022, IAIN Ponorogo kembali menugaskan kepada Mahasiswa untuk memulai pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat secara offline. Pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) ini terbagi menjadi 120 kelompok dengan berpencar- pencar di beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Sambit, kecamatan Slahung, Kecamatan Bungkal, Kecamatan Ngrayun, dan Kecamatan Sawoo, yang mana dalam setiap kelompok terdiri dari 20 sampai 22 mahasiswa dengan pengelompokkan jenis Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) sesuai pilihan sebelum pelaksanaan KPM. Setidaknya ada 2 jenis KPM, yaitu : KPM Mono Disiplin dan KPM Multi Disiplin. KPM Mono Disiplin yaitu KPM yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa dengan bidang keilmuan atau rumpun keilmuan yang sama. Sedangkan KPM Multi Disiplin adalah Kuliah Pengabdian Masyarakat yang dilakukan oleh kelompok peserta KPM yang beranggotakan mahasiswa dengan bidang keilmuan dan rumpun keilmuan yang berbeda-beda. Dalam pelaksanaan kegiatan KPM, kami masuk di kelompok 99 yang mana ditempatkan di Desa Tempuran Kecamatan Sawoo Kabupaten Ponorogo dengan jenis KPM Mono Disiplin dan beranggotakan 21 mahasiswa yang terdiri dari 17 mahasiswa perempuan dan 4 mahasiswa laki- laki. Selama kami disana, kami tinggal di rumah mbah Silah yang merupakan penduduk asli dukuh Karangrejo.

Desa Tempuran awalnya hanya memiliki 3  dukuh saja yaitu dukuh Krajan, dukuh Petung, dan dukuh Semanding. Namun pemerintah melakukan pemisahan wilayah dikarenakan terlalu banyaknya jumlah penduduk yang ada di dukuh Semanding. Oleh karena itu, sekarang desa Tempuran memiliki 4 dukuh yaitu: dukuh Krajan, dukuh Petung, dukuh Semanding, dan dukuh Karangrejo. Diantara dukuh- dukuh tersebut hanya dukuh semanding lah yang sangat amat dekat dengan kabupaten Trenggalek. Desa Tempuran sendiri memiliki lima puluh empat (54) RT dan sembilan belas (19) RW.  Disana juga terdapat 28 mushola maupun masjid yang tersebar diantara rumah-rumah penduduk. Desa Tempuran juga memiliki lapangan yang digunakan untuk kegiatan kemasyarakatan seperti senam ibu-ibu, voli, sepakbola, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya, meskipun baru 2 tahun berdiri namun masyarakat masih memelihara dan merawat lapangan tersebut dengan baik sehingga kondisinya masih bagus.  Di desa Tempuran ini jarak antara dukuh satu dengan yang lainnya berjauhan dikarenakan daerah perbukitan, desa Tempuran juga menjadi daerah perbatasan antara Ponorogo dan Trenggalek.

Sebelum kegiatan KPM dimulai, kami sebelumnya telah mendatangi salah satu rumah perangkat desa Tempuran yaitu bapak Jeman selaku carik di desa Tempuran. Tujuan kami pertama yaitu untuk silahturahmi sekaligus mengantar surat izin KPM di desa Tempuran dari pihak kampus. Di dalam rumah bapak Jeman, kami membahas tentang desa Tempuran itu sendiri seperti sejarahnya, potensi yang ada didesa, kegiatan- kegiatan yang ada di desa dan juga kebiasaan yang dilakukan oleh warga desa Tempuran. Setelah itu kami diarahkan oleh bapak Jeman untuk menemui bapak Pur. Sesampai di rumah bapak Pur kami langsung  mendatangi rumah yang akan kami tinggali selama 40 hari yang berada di dukuh Karangrejo desa Tempuran. Dalam perjalanan, kami prihatin dengan jalan yang ada karena jalan tersebut rusak parah yang  disebabkan oleh truk yang membawa kayu- kayu maupun batu- batu besar dan inilah yang seharusnya  menjadi perhatian pemerintah kabupaten Ponorogo khususnya. Kami mendatangi rumah salah satu warga yang ada di Desa Tempuran ini yang bernama mbah Silah.

Sesampainya di rumah mbah Silah kami terpesona akan keindahan alam yang ada di Desa Tempuran karena didepan rumah mbah Silah sendiri terbentang sawah yang sangat amat luas dan ketika sore kita dapat menikmati pemandangan yang matahari suguhkan. Kami bersama bapak Pur meminta izin kepada mbah Silah untuk menempati rumahnya selama 40 hari.

Desa Tempuran termasuk salah satu desa yang berada di Kecamatan Sawoo Kabupaten Ponorogo, di desa ini  pada umumnya juga sama seperti desa yang lain dimana memiliki UMKM untuk memajukan, mensejahterakan, mengurangi angka pengangguran masyarakat dan lain sebagainya. UMKM disini juga beragam, maksudnya tidak hanya satu atau dua saja melainkan ada banyak. Seperti usaha pembuatan besek, usaha budidaya jamur, usaha dupo ratus (sembayang), usaha ayam potong, dan usaha tusuk sempol. Semua UMKM tersebut tidak memerlukan tenaga kerja dari luar sebab semua pekerja berasal dari desa Tempuran dan lebih tepatnya tetangga dari UMKM itu sendiri.

Budidaya jamur sendiri di miliki oleh bapak Ahmad Khodir, beliau membudidayakan beragam jenis jamur seperti jamur coklat, jamur tiram, jamur pink dan jamur kuping. Bapak Ahmad Khodir memiliki adik yang bernama bapak Tomi, bapak Tomi sendiri juga memiliki UMKM yaitu usaha ayam potong. Selain kedua UMKM tersebut, desa Tempuran ini masih  memiliki UMKM yang lain yaitu dupo ratus (sembayang) yang dimiliki oleh bapak Suseno dan UMKM tusuk sempol yang dimiliki oleh ibu Suparti. Ke-empat UMKM tersebut terbukti sangat membantu terkhusus tetangga dan masyarakat desa Tempuran, hal ini dibuktikan oleh pengakuan dari salah satu warga dukuh Karangrejo yang mengungkapkan bahwa UMKM ini sangat mengurangi angka pengangguran yang ada didesa dan sangat mensejahterahkan masyarakat desa Tempuran.

Sebagian besar penduduk desa Tempuran bermata pencaharian sebagai petani, namun ada juga yang berprofesi sebagai pedagang dan peternak. Petani di desa ini biasanya menanam padi namun bila musim kemarau seperti ini para petani menanam jagung dikarenakan tidak ada air dan bisa menyuburkan tanah dengan mengalihfungsikan lahan. Peternak disana biasanya hanya ayam saja mengingat daerah mereka juga jauh dari kota jadinya penduduk desa Tempuran biasanya hanya untuk mencari uang sampingan, jualan, maupun untuk dimakan.

Di desa Tempuran juga mengadakan kegiatan kemasyarakatan seperti pengajian akbar, reog, orkesan, dangdutan, lomba-lomba untuk memperingati hari besar, posyandu balita, posyandu lansia, senam ibu-ibu, yasinan ibu-ibu maupun bapak-bapak, hadrohan, muslimatan, simaan Al-Qur’an, yasinan kubro, berjanzi dan lainnya. Untuk kegiatan posyandu balita di dukuh Semanding diselenggarakan setiap tanggal 11 setiap bulannya dan untuk dukuh Karangrejo diadakan setiap tanggal 12 setiap bulannya. Adapun kegiatan posyandu lansia diadakan setiap tanggal 14 setiap bulannya baik di dukuh Semanding maupun didukuh Karangrejo sendiri.

Desa Tempuran juga memiliki TPA tentunya agar anak-anak bisa belajar ilmu keagamaan semakin dalam maupun luas lagi. Adapun TPA yang ada di desa Tempuran ini setidaknya ada dua, yaitu TPA Baitul hasanah dan TPA Uswatun Hasanah. TPA Baitul Hasanah sendiri memiliki dua tempat yakni di dukuh Karangrejo dan dukuh Tanggung. Pada dua tempat itu, jam pembelajarannya juga sama yakni pukul setengah tiga sampai pukul empat. Adapun TPA Uswatun Hasanah bertempat di Karangrejo tepatnya di masjid Uswatun Hasanah, untuk waktu pembelajarannya setelah magrib sampai isya’.

Mayoritas di desa Tempuran ini memilih organisasi keislaman Nahdlatul Ulama meskipun ada juga yang memilih mengikuti organisasi keislaman Muhammadiyyah. Didesa Tempuran ini tidak ada yang berselisih faham mengenai perbedaan-perbedaan yang mereka yakini dalam organisasi keislaman mereka karena masyarakat desa Tempuran menjunjung tinggi kerukunan, silaturahmi, gotong royong, tolong menolong, maupun menghargai perbedaan. Banom-banom nahdlatul ulama disana pun juga cukup aktif seperti halnya ikatan pelajar nahdlatul ulama (IPNU-IPPNU).

Karang Taruna juga tak luput dari desa Tempuran ini sebab karang taruna sendiri  merupakan wadah yang dibentuk oleh masyarakat untuk generasi muda supaya mengembangkan diri, tumbuh, berkembang atas dasar kesadaran, dan tanggung jawab sosial dari, oleh, maupun untuk generasi muda yang berorientasi pada tercapainya kesejahteraan sosial bagi msyarakat. Untuk itu, pemuda disini sangatlah aktif, inovatif, dan kreatif dalam memanfaatkan sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang tersedia. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan karang taruna desa Tempuran adalah arisan, gotong royong dan yasinan.

Kelompok tani juga ada di desa Tempuran ini, dimana sudah banyak hal yang sudah mereka lakukan seperti bertukar pikiran, bekerjasama dalam mengembangkan usaha tani maupun meningkatkan skala ekonomi. Meningkatkan skala ekonomi disini adalah para tani bekerjasama utuk menciptakan produk unggulan lalu dipasarkan, seperti yang sudah dilakukan oleh kelompok tani desa Tempuran ini. Produk unggulan itu yaitu pohon gaharu dan pohon cendana yang mana pohon ini sudah dikirim ke trenggalek. Dalam pembibitannya dilakukan di desa Tempuran itu sendiri.

Di desa Tempuran juga memiliki lembaga pendidikan agar generasi masyarakat desa Tempuran bisa merubah tingkah lakunya untuk menjadikan lebih baik dan bisa meneruskan kesejahteraan masyarakat kedepannya supaya lebih baik daripada sebelumnya. Setidaknya ada 6 lembaga Pendidikan yang ada di desa Tempuran ini baik dari TK hingga SMP. Lembaga Pendidikan tersebut diantarannya adalah TK, SDN 1 Tempuran, SDN 2 Tempuran, SDN 3 Tempuran, dan SMPN 4 Sawoo.  SDN 1 dan 3 Tempuran berada di dukuh Krajan sedangkan SDN 2 Tempuran berada di dukuh Karangrejo.

Pada zaman sekarang teknologi semakin berkembang, hal ini memiliki dampak positif dan dampak negatif tentunya baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa. Dampak positif dari berkembangnya teknologi adalah kita dapat mengetahui berita dengan lebih cepat dan mempermudah mengirim mapun menerima sebuah informasi. Namun hal ini juga mempunyai dampak negatif pada anak khusunya, seperti kecanduan hp, tidak mau mengeksplor dunia luar, cenderung malas saat ingin melakukan apapun, kurangnya akhlak pada anak dan masih banyak lagi. Hal ini tak terkecuali yang di alami oleh siswa di SDN 2 Tempuran, mereka cenderung malas untuk melakukan kegiatan, menentang perintah dari guru, berani melawan guru, tidak sopannya murid terhadap guru, membawa hp di sekolahan, dan lainnya. Hal ini tentunya menjadi prihatin bagi kami selaku mahasiswa yang melakukan pengabdian masyarakat.

Untuk mengatasi dan mengurangi permasalahan yang ada pada siswa,  kami di dampingi oleh para guru melakukan berbagai macam kegiatan untuk mengajak siswa kembali aktif dan berani untuk mengembangkan diri maupun menggali apa yang belum ia ketahui serta mengeksplor dunia luar. Setiap pagi membaca asmaul husna dan membaca surat- surat pendek merupakan salah satu cara agar hati para murid bisa terbuka dan perilaku mereka bisa berubah sedikit demi sedikit. Tak hanya itu saja, guru juga melakukan do’a al- Fatihah setiap ingin mengajar kepada siswa agar mereka bisa dibukakan hatinya oleh Allah swt. Selain itu, guru juga menasehati dan juga mengarahkan mereka agar tidak terjerumus lebih dalam lagi.

Selama kami berada di SDN 2 Tempuran, sedikit demi sedikit perilaku mereka tampak sudah berubah. Setelah upaya yang Kelompok KPM kami lakukan, mereka tidak lagi menentang guru dengan berkata kotor namun sekarang mereka sudah bersikap baik terhadap orang yang lebih tua. Selain itu, setiap kali bertemu guru, siswa di SDN 2 Tempuran mereka selalu berjabat tangan sambil menyapa. Mereka juga menunjukan perubahan sikapnya kepada teman sebayanya, yakni mereka ketika pagi menyapa dan berjabat tangan dengan teman sebayanya.

Terbukti sekali, tindakan yang dilakukan oleh kelompok KPM 99 dapat membuahkan hasil yang maksimal. Kami dari Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat berusaha untuk memberikan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan yang ada dengan mengajak siswa kembali aktif dan berani untuk mengembangkan diri maupun menggali apa yang belum ia ketahui serta mengeksplor dunia luar melalui beberapa upaya seperti setiap pagi membaca asmaul husna dan membaca surat- surat pendek agar hati para murid bisa terbuka dan perilaku mereka bisa berubah sedikit demi sedikit. Tak hanya itu saja, guru juga melakukan do’a al- Fatihah setiap ingin mengajar kepada siswa agar mereka bisa dibukakan hatinya oleh Allah swt. Selain itu, guru juga menasehati dan juga mengarahkan mereka agar tidak terjerumus lebih dalam lagi.

Kesan yang saya dapatkan selama pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat di Desa Tempuran sangat banyak sekali, bahkan tidak akan pernah terlupakan. Pengalaman yang saya dapatkan selama ini tidak hanya terpacu pada dunia Pendidikan, bahkan banyak kegiatan masyarakat yang menarik. Seperti halnya di Dukuh Karangrejo Desa Tempuran Kecamatan Sawoo Kabupaten Ponorogo, ditempat inilah saya belajar hidup bermasyarakat. Setiap kamis siang kami mengikuti kegiatan rutinan yasinan bersama ibu- ibu desa Tempuran khususnya dukuh Karangrejo. Kami sebagai mahasiswa turut andil daalam kegiatan tersebut, yakni menjadi bilal saat kegiatan Yasinan. Selain itu, saya dapat amanah dari anaknya yang di Jogja oleh bapak Hadi untuk mengurus si mbah Silah itu sendiri, karena beliau sedang mengalami sakit dan saya ditugaskan untuk memberikan obat setiap hari kepada si mbah Silah itu sendiri.  Saya beranggapan beliau seperti nenek saya sendiri, beliau berumur 100 tahun lebih yang bisa disebut juga dengan mbah wareng. Selain itu, Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat juga membantu pitil jagung yang milik mbah Silah sendiri bersama orang yang ditugaskan oleh mbah Silah. Tidak hanya itu, kelompok KPM kami juga mengikuti kegiatan acara fatayat/ muslimat di dukuh Njeruk tapi bagian dari dukuh Karangrejo itu sendiri yang mana acara tersebut dihadiri oleh ibu- ibu dari beberapa dukuh yang ada di desa Tempuran itu sendiri yang mana acara tersebut mengadakan sholawatan.

Salah satu acara yang berkesan bagi saya pribadi yaitu ketika kegiatan Penutupan di SDN 2 Tempuran dan Penutupan KPM kelompok 99 IAIN Ponorogo serta Gema Sholawat dukuh Karangrejo. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus 2022 tepatnya pada hari Senin. Dalam kegiatan penutupan di SDN 2 Tempuran semua anak- anak serta bapak/ ibu guru yang ada di SDN 2 Tempuran ikut dalam kegiatan tersebut. Kuliah Pengabdian Masyarakat kelompok 99 mengadakan pertunjukan seni budaya tari jatil dan bujang ganong yang mana dalam pemainnya itu siswa siswi SDN 2 Tempuran itu sendiri. Kegiatan tersebut bertujuan untuk melestarikan budaya serta bisa moderasi beragama. Hal yang sangat berkesan juga terjadi pada malam harinya, yang mana acara tersebut diadakan penutupan KPM kelompok 99 IAIN Ponorogo sekaligus Gema Sholawat bersama Jamaah Masjid Uswatun Hasanah dukuh Karangrejo. Kegiatan tersebut dihadiri oleh masyarakat dukuh Karangrejo dan sekitarnya. Mereka berantusias untuk mensukseskan acara yang telah kami buat dengan turut meramaikan gema sholawat yang diisi langsung oleh hadroh bapak ibu dari dukuh Karangrejo yang mana pelatihnya bapak Mukari itu sendiri.

Tepatnya pada hari Rabu, 10 Agustus 2022 kami kelompok 99 KPM Mono Disiplin  IAIN Ponorogo mengadakan penutupan KPM yang ada di desa Tempuran dengan tujuan menyampaikan banyak terimakasih karena sudah memberikan tempat dan telah membantu dalam mensuksesan Kuliah Pengabdian Masyarakat tepatnya di dukuh Karangrejo. Tanpa bantuan dari mereka kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat ini tidak akan terlaksana. Dengan megikuti  kegiatan yang ada di Dukuh Karangrejo Desa Tempuran Kecamatan Sawoo dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman dalam bermasyarakat dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Walaupun kami mengambil jenis KPM Mono Disiplin dengan prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), akan tetapi kami tidak hanya terpacu pada kegiatan yang berbasis Pendidikan. Kami juga berbaur ke masyarakat untuk ikut serta dalam mengisi kegiatan masyarakat. Pengalaman yang paling menyenangkan dalam pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat, kami memiliki banyak teman dari berbagai macam kelas dengan prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan juga lebih mengenal dekat tokoh masyarakat yang ada di Desa Tempuran melalui berbagai macam aktivitas yang dilakukan, sehingga dengan hal tersebut dapat mempererat tali silahturahmi diantara sesama.

Pesan yang ingin saya sampaikan selama pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdoan Masyarakat yaitu kami berterima kasih kepada kampus tercinta kami IAIN Ponorogo yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengikuti pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat. Tak lupa kami juga berterimakasih kepada Bapak Dr. Afif Syaiful Mahmudin, M.Pd. I selaku dosen pembimbin lapangan Kuliah Pengabdian Masyarakat yang telah membimbing selama kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat berlangsung dan tak lupa kepada rekan Kuliah Pengabdian Masyarakat kami bisa mendapatkan banyak pengalaman dri masyarakat dan Lembaga lainnya yang membantu mensukseskan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat.

Kami juga berharap dengan datangnya mahasiswa KPM dan mengisi ke lembaga pendidikan khususnya SDN 2 Tempuran diharapkan mampu mengatasi problem yang ada, dengan harapan setelah mengajak siswa kembali aktif dan berani untuk mengembangkan diri maupun menggali apa yang belum ia ketahui serta mengeksplor dunia luar dan guru juga mampu menasehati dan mengarahkan mereka agar tidak terjerumus lebih dalam lagi. Selain itu, kami berharap kepada tokoh masyarakat di Desa Tempuran untuk tetap menjaga kekompakan dan selalu gotong royong guna menciptakan masyarakat yang hidup rukun dan damai. Dengan datagnya Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat di Desa Tempuran semoga dapat memberikan manfaat khususnya bagi tokoh masyarakat dan juga adik- adik yang sudah mau bergabung dengan kami dalam berbagai kegiatan seperti bimbingan belajar, kegiatan TPA maupun TPQ, semoga adik- adik di Desa Tempuran menjadi anak yang sukses, dapat membahagaiakan orang tua, dapat menggapai cita- cita, dan dapat membawa nama baik desa. Harapannya jika nanti Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat sudah usai dan meninggalkan Desa Tempuran semoga dapat memberikan kenang- kenangan yangbaik dan dikenal oleh masyarakat dengan hal- hal yang baik sehingga tali silahturahmi akan tetap terjaga walaupun kami sudah tidak ada disana.

 

OPTIMALISASI PENDAMPINGAN MAHASISWA KPM DALAM MEMBINA GENERASI QUR’ANI DI DESA KARANGREJO

 TPQ memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak sejak dini supaya memiliki pondasi agama yang baik. Materi pembelajara...