Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) adalah kegiatan perkuliahan pengabdian mahasiswa dalam bentuk belajar, meneliti dan bekerja bersama masyarakat. KPM ini merupakan kegiatan perkuliahan pengabdian masyarakat mahasiswa IAIN Ponorogo sebagai salah satu bagaian penting kegiatan pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang wajib ditempuh oleh seluruh mahasiswa IAIN Ponorogo.
KPM meruapakan bagian dari kegiatan intrakurikuler yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar, melakukan proses pencarian (research) dan bekerja bersama masyarakat. KPM bukan kegiatan bakti sosial, KPM adalah kegiatan partisipatif yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat dimana mahasiswa peserta KPM dan masyarakat melebur menjadi satu dan bersama- sama secara aktif partisipatif melakukan proses pencarian dan penemuan jalan terbaik dalam menggali potensi dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Adapun tujuan umum dari KPM adalah untuk mempraktikkan ilmu yang telah dihadapi dibangku kuliah dalam bentuk pemberdayaan masyarakat sehingga menghasilkan kualitas dan kesejahteraan hidup masyarakat menjadi meningkat. Mahasiswa peserta kegiatan pengabdian masyarakat diharapkan mampu bersinergi dengan masyarakat sehingga problem social masyarakat dapat terpecahkan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan sosial sesual dengan visi, misi, dan fungsi perguruan tinggi agama Islam.
Sedangkan tujuan khusus dari KPM adalah melatih penalaran dan kepekaan mahasiswa dengan bekerja sama atau antar disiplin ilmu, mengembangkan potensi mahasiswa untuk melakukan improvisasi dan inovasi dalam profesi khususnya dalam pembangunan masyarakat umumnya, memberikan kepada mahasiswa pengalaman belajar, meneliti dan bekerja secara langsung bersama masyarakat dalam mengahadapi berbagai persoalan yang kompleks, memberikan bantuan pemikiran kepada masyarakat dalam meningkatkan SDM sesuai dengan tuntutan dinamika pembangunan dan perkembangan iptek, mendampingi, membersamai dan mensuport masyarakat dalam upaya melakukan pembinaan pranata dan meningkatkan keahlian dan ketrampilan hidup untuk mencapai kesejateraan dan kemandirian hidup. Objek sasaran dari kegiatan KPM ini adalah mahasiswa IAIN Ponorogo dan masyarakat Kabupaten Ponorogo khususnya yang bertempat tinggal di Kecamatan yang menjadi tempat pelaksanaan KPM tahun 2022 salah satunya di Dukuh Karangrejo, Desa Tempuran Kecamatan Sawoo Kabupaten Ponorogo.
Tepat
tanggal 4 Juli 2022, IAIN Ponorogo
kembali menugaskan kepada Mahasiswa untuk memulai pelaksanaan kegiatan Kuliah
Pengabdian Masyarakat secara offline. Pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdian
Masyarakat (KPM) ini terbagi menjadi 120 kelompok dengan berpencar- pencar di
beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Sambit, kecamatan Slahung, Kecamatan Bungkal,
Kecamatan Ngrayun, dan Kecamatan Sawoo, yang mana dalam setiap kelompok terdiri
dari 20 sampai 22 mahasiswa dengan pengelompokkan jenis Kuliah Pengabdian
Masyarakat (KPM) sesuai pilihan sebelum pelaksanaan KPM. Setidaknya ada 2 jenis
KPM, yaitu : KPM Mono Disiplin dan KPM Multi Disiplin. KPM Mono Disiplin yaitu
KPM yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa dengan bidang keilmuan atau rumpun
keilmuan yang sama. Sedangkan KPM Multi Disiplin adalah Kuliah Pengabdian
Masyarakat yang dilakukan oleh kelompok peserta KPM yang beranggotakan
mahasiswa dengan bidang keilmuan dan rumpun keilmuan yang berbeda-beda. Dalam
pelaksanaan kegiatan KPM, kami masuk di kelompok 99 yang mana ditempatkan di Desa
Tempuran Kecamatan Sawoo Kabupaten Ponorogo dengan jenis KPM Mono Disiplin dan
beranggotakan 21 mahasiswa yang terdiri dari 17 mahasiswa perempuan dan 4
mahasiswa laki- laki. Selama kami disana, kami tinggal di rumah mbah Silah yang
merupakan penduduk asli dukuh Karangrejo.
Desa
Tempuran awalnya hanya memiliki 3 dukuh
saja yaitu dukuh Krajan, dukuh Petung, dan dukuh Semanding. Namun pemerintah
melakukan pemisahan wilayah dikarenakan terlalu banyaknya jumlah penduduk yang
ada di dukuh Semanding. Oleh karena itu, sekarang desa Tempuran memiliki 4
dukuh yaitu: dukuh Krajan, dukuh Petung, dukuh Semanding, dan dukuh Karangrejo.
Diantara dukuh- dukuh tersebut hanya dukuh semanding lah yang sangat amat dekat
dengan kabupaten Trenggalek. Desa Tempuran sendiri memiliki lima puluh empat
(54) RT dan sembilan belas (19) RW.
Disana juga terdapat 28 mushola maupun masjid yang tersebar diantara
rumah-rumah penduduk. Desa Tempuran juga memiliki lapangan yang digunakan untuk
kegiatan kemasyarakatan seperti senam ibu-ibu, voli, sepakbola, dan kegiatan
kemasyarakatan lainnya, meskipun baru 2 tahun berdiri namun masyarakat masih
memelihara dan merawat lapangan tersebut dengan baik sehingga kondisinya masih
bagus. Di desa Tempuran ini jarak antara
dukuh satu dengan yang lainnya berjauhan dikarenakan daerah perbukitan, desa Tempuran
juga menjadi daerah perbatasan antara Ponorogo dan Trenggalek.
Sebelum
kegiatan KPM dimulai, kami sebelumnya telah mendatangi salah satu rumah perangkat
desa Tempuran yaitu bapak Jeman selaku carik di desa Tempuran. Tujuan kami pertama
yaitu untuk silahturahmi sekaligus mengantar surat izin KPM di desa Tempuran dari
pihak kampus. Di dalam rumah bapak Jeman, kami membahas tentang desa Tempuran itu
sendiri seperti sejarahnya, potensi yang ada didesa, kegiatan- kegiatan yang
ada di desa dan juga kebiasaan yang dilakukan oleh warga desa Tempuran. Setelah
itu kami diarahkan oleh bapak Jeman untuk menemui bapak Pur. Sesampai di rumah
bapak Pur kami langsung mendatangi rumah
yang akan kami tinggali selama 40 hari yang berada di dukuh Karangrejo desa Tempuran.
Dalam perjalanan, kami prihatin dengan jalan yang ada
karena jalan tersebut rusak parah yang disebabkan
oleh truk yang membawa kayu- kayu maupun batu- batu besar dan inilah yang
seharusnya menjadi perhatian pemerintah kabupaten
Ponorogo khususnya. Kami mendatangi rumah salah satu warga yang ada di Desa Tempuran
ini yang bernama mbah Silah.
Sesampainya
di rumah mbah Silah kami terpesona akan keindahan alam yang ada di Desa
Tempuran karena didepan rumah mbah Silah sendiri terbentang sawah yang sangat
amat luas dan ketika sore kita dapat menikmati pemandangan yang matahari
suguhkan. Kami bersama bapak Pur meminta izin kepada mbah Silah untuk menempati
rumahnya selama 40 hari.
Desa
Tempuran termasuk salah satu desa yang berada di Kecamatan Sawoo Kabupaten Ponorogo,
di desa ini pada umumnya juga sama
seperti desa yang lain dimana memiliki UMKM untuk memajukan, mensejahterakan,
mengurangi angka pengangguran masyarakat dan lain sebagainya. UMKM disini juga
beragam, maksudnya tidak hanya satu atau dua saja melainkan ada banyak. Seperti
usaha pembuatan besek, usaha budidaya jamur, usaha dupo ratus (sembayang), usaha
ayam potong, dan usaha tusuk sempol. Semua UMKM tersebut tidak memerlukan
tenaga kerja dari luar sebab semua pekerja berasal dari desa Tempuran dan lebih
tepatnya tetangga dari UMKM itu sendiri.
Budidaya
jamur sendiri di miliki oleh bapak Ahmad Khodir, beliau membudidayakan beragam
jenis jamur seperti jamur coklat, jamur tiram, jamur pink dan jamur kuping.
Bapak Ahmad Khodir memiliki adik yang bernama bapak Tomi, bapak Tomi sendiri
juga memiliki UMKM yaitu usaha ayam potong. Selain kedua UMKM tersebut, desa Tempuran
ini masih memiliki UMKM yang lain yaitu
dupo ratus (sembayang) yang dimiliki oleh bapak Suseno dan UMKM tusuk sempol
yang dimiliki oleh ibu Suparti. Ke-empat UMKM tersebut terbukti sangat membantu
terkhusus tetangga dan masyarakat desa Tempuran, hal ini dibuktikan oleh
pengakuan dari salah satu warga dukuh Karangrejo yang mengungkapkan bahwa UMKM
ini sangat mengurangi angka pengangguran yang ada didesa dan sangat
mensejahterahkan masyarakat desa Tempuran.
Sebagian
besar penduduk desa Tempuran bermata pencaharian sebagai petani, namun ada juga
yang berprofesi sebagai pedagang dan peternak. Petani di desa ini biasanya
menanam padi namun bila musim kemarau seperti ini para petani menanam jagung
dikarenakan tidak ada air dan bisa menyuburkan tanah dengan mengalihfungsikan
lahan. Peternak disana biasanya hanya ayam saja mengingat daerah mereka juga
jauh dari kota jadinya penduduk desa Tempuran biasanya hanya untuk mencari uang
sampingan, jualan, maupun untuk dimakan.
Di
desa Tempuran juga mengadakan kegiatan kemasyarakatan seperti pengajian akbar,
reog, orkesan, dangdutan, lomba-lomba untuk memperingati hari besar, posyandu
balita, posyandu lansia, senam ibu-ibu, yasinan ibu-ibu maupun bapak-bapak, hadrohan,
muslimatan, simaan Al-Qur’an, yasinan kubro, berjanzi dan lainnya. Untuk
kegiatan posyandu balita di dukuh Semanding diselenggarakan setiap tanggal 11
setiap bulannya dan untuk dukuh Karangrejo diadakan setiap tanggal 12 setiap
bulannya. Adapun kegiatan posyandu lansia diadakan setiap tanggal 14 setiap
bulannya baik di dukuh Semanding maupun didukuh Karangrejo sendiri.
Desa
Tempuran juga memiliki TPA tentunya agar anak-anak bisa belajar ilmu keagamaan
semakin dalam maupun luas lagi. Adapun TPA yang ada di desa Tempuran ini
setidaknya ada dua, yaitu TPA Baitul hasanah dan TPA Uswatun Hasanah. TPA
Baitul Hasanah sendiri memiliki dua tempat yakni di dukuh Karangrejo dan dukuh Tanggung.
Pada dua tempat itu, jam pembelajarannya juga sama yakni pukul setengah tiga
sampai pukul empat. Adapun TPA Uswatun Hasanah bertempat di Karangrejo tepatnya
di masjid Uswatun Hasanah, untuk waktu pembelajarannya setelah magrib sampai
isya’.
Mayoritas
di desa Tempuran ini memilih organisasi keislaman Nahdlatul Ulama meskipun ada
juga yang memilih mengikuti organisasi keislaman Muhammadiyyah. Didesa Tempuran
ini tidak ada yang berselisih faham mengenai perbedaan-perbedaan yang mereka yakini
dalam organisasi keislaman mereka karena masyarakat desa Tempuran menjunjung
tinggi kerukunan, silaturahmi, gotong royong, tolong menolong, maupun
menghargai perbedaan. Banom-banom nahdlatul ulama disana pun juga cukup aktif
seperti halnya ikatan pelajar nahdlatul ulama (IPNU-IPPNU).
Karang
Taruna juga tak luput dari desa Tempuran ini sebab karang taruna sendiri merupakan wadah yang dibentuk oleh masyarakat
untuk generasi muda supaya mengembangkan diri, tumbuh, berkembang atas dasar
kesadaran, dan tanggung jawab sosial dari, oleh, maupun untuk generasi muda
yang berorientasi pada tercapainya kesejahteraan sosial bagi msyarakat. Untuk itu,
pemuda disini sangatlah aktif, inovatif, dan kreatif dalam memanfaatkan sumber
daya manusia maupun sumber daya alam yang tersedia. Kegiatan-kegiatan yang
dilakukan karang taruna desa Tempuran adalah arisan, gotong royong dan yasinan.
Kelompok
tani juga ada di desa Tempuran ini, dimana sudah banyak hal yang sudah mereka
lakukan seperti bertukar pikiran, bekerjasama dalam mengembangkan usaha tani
maupun meningkatkan skala ekonomi. Meningkatkan skala ekonomi disini adalah
para tani bekerjasama utuk menciptakan produk unggulan lalu dipasarkan, seperti
yang sudah dilakukan oleh kelompok tani desa Tempuran ini. Produk unggulan itu
yaitu pohon gaharu dan pohon cendana yang mana pohon ini sudah dikirim ke trenggalek.
Dalam pembibitannya dilakukan di desa Tempuran itu sendiri.
Di
desa Tempuran juga memiliki lembaga pendidikan agar generasi masyarakat desa Tempuran
bisa merubah tingkah lakunya untuk menjadikan lebih baik dan bisa meneruskan
kesejahteraan masyarakat kedepannya supaya lebih baik daripada sebelumnya. Setidaknya
ada 6 lembaga Pendidikan yang ada di desa Tempuran ini baik dari TK hingga SMP.
Lembaga Pendidikan tersebut diantarannya adalah TK, SDN 1 Tempuran, SDN 2 Tempuran,
SDN 3 Tempuran, dan SMPN 4 Sawoo. SDN 1
dan 3 Tempuran berada di dukuh Krajan sedangkan SDN 2 Tempuran berada di dukuh Karangrejo.
Pada
zaman sekarang teknologi semakin berkembang, hal ini memiliki dampak positif
dan dampak negatif tentunya baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa.
Dampak positif dari berkembangnya teknologi adalah kita dapat mengetahui berita
dengan lebih cepat dan mempermudah mengirim mapun menerima sebuah informasi.
Namun hal ini juga mempunyai dampak negatif pada anak khusunya, seperti kecanduan
hp, tidak mau mengeksplor dunia luar, cenderung malas saat ingin melakukan
apapun, kurangnya akhlak pada anak dan masih banyak lagi. Hal ini tak
terkecuali yang di alami oleh siswa di SDN 2 Tempuran, mereka cenderung malas
untuk melakukan kegiatan, menentang perintah dari guru, berani melawan guru,
tidak sopannya murid terhadap guru, membawa hp di sekolahan, dan lainnya. Hal
ini tentunya menjadi prihatin bagi kami selaku mahasiswa yang melakukan
pengabdian masyarakat.
Untuk
mengatasi dan mengurangi permasalahan yang ada pada siswa, kami di dampingi oleh para guru melakukan
berbagai macam kegiatan untuk mengajak siswa kembali aktif dan berani untuk
mengembangkan diri maupun menggali apa yang belum ia ketahui serta mengeksplor
dunia luar. Setiap pagi membaca asmaul husna dan membaca surat- surat pendek
merupakan salah satu cara agar hati para murid bisa terbuka dan perilaku mereka
bisa berubah sedikit demi sedikit. Tak hanya itu saja, guru juga melakukan do’a
al- Fatihah setiap ingin mengajar kepada siswa agar mereka bisa dibukakan hatinya
oleh Allah swt. Selain itu, guru juga menasehati dan juga mengarahkan mereka
agar tidak terjerumus lebih dalam lagi.
Selama
kami berada di SDN 2 Tempuran, sedikit demi sedikit perilaku mereka tampak sudah
berubah. Setelah upaya yang Kelompok KPM kami lakukan, mereka tidak lagi menentang
guru dengan berkata kotor namun sekarang mereka sudah bersikap baik terhadap
orang yang lebih tua. Selain itu, setiap kali bertemu guru, siswa di SDN 2
Tempuran mereka selalu berjabat tangan sambil menyapa. Mereka juga menunjukan
perubahan sikapnya kepada teman sebayanya, yakni mereka ketika pagi menyapa dan
berjabat tangan dengan teman sebayanya.
Terbukti
sekali, tindakan yang dilakukan oleh kelompok KPM 99 dapat membuahkan hasil
yang maksimal. Kami dari Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat berusaha untuk
memberikan solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan yang ada dengan
mengajak siswa kembali aktif dan berani untuk mengembangkan diri maupun
menggali apa yang belum ia ketahui serta mengeksplor dunia luar melalui
beberapa upaya seperti setiap pagi membaca asmaul husna dan membaca surat-
surat pendek agar hati para murid bisa terbuka dan perilaku mereka bisa berubah
sedikit demi sedikit. Tak hanya itu saja, guru juga melakukan do’a al- Fatihah
setiap ingin mengajar kepada siswa agar mereka bisa dibukakan hatinya oleh
Allah swt. Selain itu, guru juga menasehati dan juga mengarahkan mereka agar
tidak terjerumus lebih dalam lagi.
Kesan
yang saya dapatkan selama pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat di
Desa Tempuran sangat banyak sekali, bahkan tidak akan pernah terlupakan.
Pengalaman yang saya dapatkan selama ini tidak hanya terpacu pada dunia
Pendidikan, bahkan banyak kegiatan masyarakat yang menarik. Seperti halnya di
Dukuh Karangrejo Desa Tempuran Kecamatan Sawoo Kabupaten Ponorogo, ditempat
inilah saya belajar hidup bermasyarakat. Setiap kamis siang kami mengikuti
kegiatan rutinan yasinan bersama ibu- ibu desa Tempuran khususnya dukuh
Karangrejo. Kami sebagai mahasiswa turut andil daalam kegiatan tersebut, yakni
menjadi bilal saat kegiatan Yasinan. Selain itu, saya dapat amanah dari anaknya
yang di Jogja oleh bapak Hadi untuk mengurus si mbah Silah itu sendiri, karena
beliau sedang mengalami sakit dan saya ditugaskan untuk memberikan obat setiap
hari kepada si mbah Silah itu sendiri. Saya
beranggapan beliau seperti nenek saya sendiri, beliau berumur 100 tahun lebih
yang bisa disebut juga dengan mbah wareng. Selain itu, Mahasiswa Kuliah
Pengabdian Masyarakat juga membantu pitil jagung yang milik mbah Silah sendiri
bersama orang yang ditugaskan oleh mbah Silah. Tidak hanya itu, kelompok KPM
kami juga mengikuti kegiatan acara fatayat/ muslimat di dukuh Njeruk tapi
bagian dari dukuh Karangrejo itu sendiri yang mana acara tersebut dihadiri oleh
ibu- ibu dari beberapa dukuh yang ada di desa Tempuran itu sendiri yang mana
acara tersebut mengadakan sholawatan.
Salah
satu acara yang berkesan bagi saya pribadi yaitu ketika kegiatan Penutupan di
SDN 2 Tempuran dan Penutupan KPM kelompok 99 IAIN Ponorogo serta Gema Sholawat dukuh
Karangrejo. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus 2022 tepatnya
pada hari Senin. Dalam kegiatan penutupan di SDN 2 Tempuran semua anak- anak
serta bapak/ ibu guru yang ada di SDN 2 Tempuran ikut dalam kegiatan tersebut.
Kuliah Pengabdian Masyarakat kelompok 99 mengadakan pertunjukan seni budaya tari
jatil dan bujang ganong yang mana dalam pemainnya itu siswa siswi SDN 2
Tempuran itu sendiri. Kegiatan tersebut bertujuan untuk melestarikan budaya
serta bisa moderasi beragama. Hal yang sangat berkesan juga terjadi pada malam
harinya, yang mana acara tersebut diadakan penutupan KPM kelompok 99 IAIN
Ponorogo sekaligus Gema Sholawat bersama Jamaah Masjid Uswatun Hasanah dukuh
Karangrejo. Kegiatan tersebut dihadiri oleh masyarakat dukuh Karangrejo dan
sekitarnya. Mereka berantusias untuk mensukseskan acara yang telah kami buat
dengan turut meramaikan gema sholawat yang diisi langsung oleh hadroh bapak ibu
dari dukuh Karangrejo yang mana pelatihnya bapak Mukari itu sendiri.
Tepatnya
pada hari Rabu, 10 Agustus 2022 kami kelompok 99 KPM Mono Disiplin IAIN Ponorogo mengadakan penutupan KPM yang
ada di desa Tempuran dengan tujuan menyampaikan banyak terimakasih karena sudah
memberikan tempat dan telah membantu dalam mensuksesan Kuliah Pengabdian
Masyarakat tepatnya di dukuh Karangrejo. Tanpa bantuan dari mereka kegiatan
Kuliah Pengabdian Masyarakat ini tidak akan terlaksana. Dengan megikuti kegiatan yang ada di Dukuh Karangrejo Desa
Tempuran Kecamatan Sawoo dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman dalam
bermasyarakat dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Walaupun kami
mengambil jenis KPM Mono Disiplin dengan prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), akan
tetapi kami tidak hanya terpacu pada kegiatan yang berbasis Pendidikan. Kami juga
berbaur ke masyarakat untuk ikut serta dalam mengisi kegiatan masyarakat. Pengalaman
yang paling menyenangkan dalam pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat,
kami memiliki banyak teman dari berbagai macam kelas dengan prodi Pendidikan Agama
Islam (PAI) dan juga lebih mengenal dekat tokoh masyarakat yang ada di Desa
Tempuran melalui berbagai macam aktivitas yang dilakukan, sehingga dengan hal
tersebut dapat mempererat tali silahturahmi diantara sesama.
Pesan yang ingin saya sampaikan selama pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdoan Masyarakat yaitu kami berterima kasih kepada kampus tercinta kami IAIN Ponorogo yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengikuti pelaksanaan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat. Tak lupa kami juga berterimakasih kepada Bapak Dr. Afif Syaiful Mahmudin, M.Pd. I selaku dosen pembimbin lapangan Kuliah Pengabdian Masyarakat yang telah membimbing selama kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat berlangsung dan tak lupa kepada rekan Kuliah Pengabdian Masyarakat kami bisa mendapatkan banyak pengalaman dri masyarakat dan Lembaga lainnya yang membantu mensukseskan kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat.
Kami juga berharap dengan datangnya mahasiswa KPM dan mengisi ke lembaga pendidikan khususnya SDN 2 Tempuran diharapkan mampu mengatasi problem yang ada, dengan harapan setelah mengajak siswa kembali aktif dan berani untuk mengembangkan diri maupun menggali apa yang belum ia ketahui serta mengeksplor dunia luar dan guru juga mampu menasehati dan mengarahkan mereka agar tidak terjerumus lebih dalam lagi. Selain itu, kami berharap kepada tokoh masyarakat di Desa Tempuran untuk tetap menjaga kekompakan dan selalu gotong royong guna menciptakan masyarakat yang hidup rukun dan damai. Dengan datagnya Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat di Desa Tempuran semoga dapat memberikan manfaat khususnya bagi tokoh masyarakat dan juga adik- adik yang sudah mau bergabung dengan kami dalam berbagai kegiatan seperti bimbingan belajar, kegiatan TPA maupun TPQ, semoga adik- adik di Desa Tempuran menjadi anak yang sukses, dapat membahagaiakan orang tua, dapat menggapai cita- cita, dan dapat membawa nama baik desa. Harapannya jika nanti Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat sudah usai dan meninggalkan Desa Tempuran semoga dapat memberikan kenang- kenangan yangbaik dan dikenal oleh masyarakat dengan hal- hal yang baik sehingga tali silahturahmi akan tetap terjaga walaupun kami sudah tidak ada disana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar